Senin, 11 Juni 2018

SEJARAH TERBENTUKNYA BANTAYAN | BANTAENG BUTTA TOA


Komunitas Onto memiliki sejarah tersendiri yang menjadi cikal bakal Bantaeng. Menurut Karaeng Imran Masualle salah satu generasi penerus dari kerajaan Bantaeng, dulunya daerah Bantaeng ini masih berupa lautan. Hanya beberapa tempat tertentu saja yang berupa daratan yaitu daerah Onto dan beberapa daerah di sekitarnya yaitu Sinoa, Bisampole, Gantarang keke, Mamapang, Katapang dan Lawi-Lawi.


Masing-masing daerah ini memiliki pemimpin sendiri-sendiri yang disebut dengan Kare’. Suatu ketika para Kare yang semuanya ada tujuh orang tersebut, bermufakat untuk mengangkat satu orang yang akan memimpin mereka semua.

Sebelum itu mereka sepakat untuk melakukan pertapaan lebih dulu, untuk meminta petunjuk kepada Dewata (Yang Maha Kuasa) siapa kira-kira yang tepat menjadi pemimpin mereka. Lokasi pertapaan yang dipilih adalah daerah Onto. Ketujuh Kare itu kemudian bersamadi di tempat itu.

Tempat-tempat samadi itu sekarang disimbolkan dengan Balla Tujua (tujuh rumah kecil yang beratap, berdidinding dan bertiang bambu). Pada saat mereka bersemadi, turunlah cahaya ke Kare Bisampole (Pimpinan daerah Bisampole) dan terdengar suara :”Apangaseng antu Nuboya Nakadinging-dinginganna” (Apa yang engkau cari dalam cuaca dingin seperti ini).

Lalu Kare Bisampole menjelaskan maksud kedatangannya untuk mencari orang yang tepat memimpin mereka semua, agar tidak lagi terpisah-pisah seperti sekarang ini. Lalu kembali terdengar suara: “Ammuko mangemako rimamampang ribuangayya Risalu Cinranayya (Besok datanglah kesatu tempat permandian yang terbuat dari bamboo).

Keesokan harinya mereka mencari tempat yang dimaksud di daerah Onto. Di tempat itu mereka menemukan seorang laki-laki sedang mandi. “Inilah kemudian yang disebut dengan To Manurunga ri Onto,” jelas Karaeng Burhanuddin salah seorang dari generasi kerajaan Bantaeng.

Lalu ketujuh Kare menyampaikan tujuannya untuk mencari pemimpin, sekaligus meminta Tomanurung untuk memimpin mereka.

Tomanurung menyatakan kesediaannya, tapi dengan syarat. “Eroja nuangka anjari Karaeng, tapi nakkepa anging kau leko kayu, nakke je’ne massolong ikau sampara mamanyu” (saya mau diangkat menjadi raja pemimpin kalian tapi saya ibarat angin dan kalian adalah ibarat daun, saya air yang mengalir dan kalian adalah kayu yang hanyut),” kata Tomanurung.

Ketujuh Kare yang diwakili oleh Kare Bisampole pun menyahut; “Kutarimai Pakpalanu tapi kualleko pammajiki tangkualleko pakkodii, Kualleko tambara tangkualleko racung.” (Saya terima permintaanmu tapi kau hanya kuangkat jadi raja untuk mendatangkan kebaikan dan bukan untuk keburukan, juga engkau kuangkat jadi raja untuk jadi obat dan bukannya racun).

Maka jadilah tomanurung ri ontoo ini sebagai raja bagi mereka semua. Pada saat ia memandang ke segala penjuru maka daerah yang tadinya laut berubah menjadi daratan. Tomanurung ini sendiri lalu mengawini gadis Onto yang dijuluki Dampang Onto (Gadis jelitanya Onto).

Setelah itu mereka pun berangkat ke arah yang sekarang disebut gamacayya. Di satu tempat mereka bernaung di bawah pohon lalu bertanyalah Tomanurung pohon apa ini, dijawab oleh Kare Bisampole: Pohon Taeng sambil memandang kearah enam kare yang lain.

Serentak kenam kare yang lain menyatakan Ba’ (tanda membenarkan dalam bahasa setempat). Dari sinilah kemudian muncul kata Bantaeng dari dua kata tadi yaitu Ba’ dan Taeng jelas Karaeng Imran Masualle.

Konon karena daerah Onto ini menjadi daerah sakral dan perlindungan bagi keturunan raja Bantaeng bila mendapat masaalah yang besar, maka bagi anak keturunan kerajaan tidak boleh sembarangan memasuki daerah ini, kecuali diserang musuh atau dipakaikan dulu tanduk dari emas. Namun kini hal itu hanya cerita.

Karena menurut Karaeng Burhanuddin semua itu telah berubah akibat kebijakan Pemda yang telah melakukan tata ruang terhadap daerah ini. Kini Kesakralan daerah itu hanya tinggal kenangan.
Tanggal 7 (tujuh) menunjukkan simbol Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yang memerintah dimasa lalu, yaitu: Kare Onto, Bissampole, Sinowa, Gantarangkeke, Mamampang, Katapang dan Lawi-Lawi.


Perlawanan Rakyat Bantaeng Terhadap Penjajah Belanda

Selain itu, sejarah menunjukkan, bahwa pada tanggal 7 Juli 1667 terjadi perang Makassar, dimana tentara Belanda mendarat lebih dahulu di Bantaeng sebelum menyerang Gowa karena letaknya yang strategis sebagai bandar pelabuhan dan lumbung pasangan Kerajaan Gowa.

Serangan Belanda tersebut gagal, karena ternyata dengan semangat patriotiseme rakyat Bantaeng sebagai bagian Kerajaan Gowa pada waktu itu mengadakan perlawanan besar-besaran.

Bulan 12 (dua belas), menunjukkan sistem Hadat 12 atau semacam DPRD sekarang yang terdiri dari perwakilan rakyat melalui Unsur Jannang (Kepala Kampung) sebagai anggotanya yang secara demokratis menetapkan kebijaksanaan pemerintahan bersama Karaeng Bantaeng.

Hasil Penelitian Menyatakan Bantaeng Sudah Ada Sejak Tahun 500 Masehi.

Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegara memperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292.

Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu.
Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehingga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tuo (Tanah bersejarah).

Selanjutnya laporan peneliti Amerika Serikat Wayne A. Bougas menyatakan Bantayan adalah Kerajaan Makassar awal tahun 1200-1600, dibuktikan dengan ditemukannya penelitian arkeolog dan para penggali keramik pada bagian penting wilayah Bantaeng yakni berasal dari dinasti Sung (960-1279) dan dari dinasti Yuan (1279-1368).

Penetapan Hari Jadi Bantaeng

Sesuai kesepakatan yang telah dicapai oleh para pakar sejarah, sesepuh dan tokoh masyarakat Bantaeng pada tanggal 2-4 Juli 1999.

berdasarkan Keputusan Mubes KKB nomor 12/Mubes KKB/VII/1999 tanggal 4 Juli 1999 tentang penetapan Hari Jadi Bantaeng maupun kesepatan anggota DPRD Tingkat II Bantaeng, telah memutuskan bahwa sangat tepat Hari Jadi Bantaeng ditetapkan pada tanggal 7 bulan 12 tahun 1254, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor: 28 tahun 1999.

Raja-Raja yang pernah memerintah

Berikut ini adalah daftar nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Kabupaten Bantaeng, yaitu:
  1. Bantayan pada awalnya sebagai Kerajaan yakni tahun 1254 - 1293 yang mana diperintah oleh Mula Tau yang bergelar To Toa. yang memimpin Kerajaan Bantaeng yang terdiri dari 7 Kawasan yang masing diantaranya dipimpin oleh beberapa Karaeng, yaitu Kare Onto, Kare Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang dan Kare Lawi-Lawi,yang semua Kare tersebut dikenal dengan nama “Tau Tujua”
  2. Sesudah Mula Tau, maka Raja kedua yang memerintah yaitu Raja Massaniaga pada tahun 1293.
  3. Pada tahun 1293 - 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya.
  4. Tahun 1332 - 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung.
  5. Tahun 1368 - 1397 dipimpin oleh Maradiya.
  6. Tahun 1397 - 1425 dipimpin oleh Massanigaya.
  7. Tahun 1425 - 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya.
  8. Tahun 1453 - 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga.
  9. Tahun 1482 - 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang.
  10. Tahun 1509 - 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
  11. Tahun 1532 - 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata.
  12. Tahun 1560 - 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tuni Tambanga.
  13. Tahun 1576 - 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tumaparisika Bokona.
  14. Tahun 1590 - 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea Matinroa ri Jalanjang Latenri Rua.
  15. Tahun 1620 - 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya.
  16. Tahun 1652 - 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Ilanga ri Tamallangnge.
  17. Tahun 1670 - 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele.
  18. Tahun 1672 - 1687 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Baso (kedua kalinya).
  19. Tahun 1687 - 1724 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Ngalle.
  20. Tahun 1724 - 1756 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Manangkasi.
  21. Tahun 1756 - 1787 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Loka.
  22. Tahun 1787 - 1825 dipimpin oleh Ibagala Daeng Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang.
  23. Tahun 1825 - 1826 dipimpin oleh La Tjalleng To Mangnguliling Karaeng Tallu Dongkonga ri Bantaeng yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
  24. Tahun 1826 - 1830 dipimpin oleh Daeng To Nace (Janda Permaisuri, Kr. Bagala Dg. Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang).
  25. Tahun 1830 - 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing.
  26. Tahun 1850 - 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaurang.
  27. Tahun 1860 - 1866 dipimpin oleh Karaeng Basunu.
  28. Tahun 1866 - 1877 dipimpin oleh Karaeng Butung.
  29. Tahun 1877 - 1913 dipimpin oleh Karaeng Panawang.
  30. Tahun 1913 - 1933 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi.
  31. Tahun 1933 - 1939 dipimpin oleh Karaeng Mangkala
  32. Tahun 1939 - 1945 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang
  33. Tahun 1945 - 1950 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi (kedua kalinya).
  34. Tahun 1950 - 1952 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang (kedua kalinya).
  35. Tahun 1952 - Karaeng Massoelle (sebagai pelaksana tugas).
Pemerintah Masa Kerajaan ini berlangsung sejak abad XII dan berakhir pada masa sesudah kemerdekaan, dan dalam penyelenggaraan pemerintahan Kerajaan itu berlangsung pula birokrasi pemerintahan Hindia Belanda secara bersama-sama.
Berbagai sumber

Kamis, 21 Desember 2017

TEAM ADVENTURE BANTAENG (DUTA BIKERS): Bro Mario Iroth Darah Manado Menungganggi benelli ...

TEAM ADVENTURE BANTAENG (DUTA BIKERS): Bro Mario Iroth Darah Manado Menungganggi benelli ...: Perjalanan yang menghabiskan 1.000liter bahan bakar bensin beroktan rata-rata 92, turut pula menghabiskan satu set kampas rem depan, 2 se...

Bro Mario Iroth Darah Manado Menungganggi benelli bn600 Dari Indonesia menuju Benua Asia dan eropa


Perjalanan yang menghabiskan 1.000liter bahan bakar bensin beroktan rata-rata 92, turut pula menghabiskan satu set kampas rem depan, 2 set kampas rem belakang, dan satu set kaampas kopling, serta ganti oli 3 kali (Castrol Power1).

Dan perjalanan melintas 14 negara Asia, dan Eropa, dalam 174 hari, diawali dari Parijs van Java-Bandung, 21 April 2015, hingga Paris Perancis, 12 Oktober 2015 itu, dilanjutkan ke 2 negara tambahan, Belanda dan Belgia atas undangan TV nasional di sana.

Kisah uniknya dimulai dengan jaket riding yang digunakan Mario merupakan produk dalam negeri, Respiro Velocy. Padahal menurut Teddy Suryadi Marketing Communications Respiro, “Jaket yang digunakan Mario (Respiro Velocy), pernah ditolak salah satu APM, sebagai riding gear aksesoris mereka.”

Sementara Steven Kencana, Director Benelli Motor Indonesia, mengungkapkan, “Motor BN600 yang kita serahkan ke Mario, sudah menempuh 15.000km, sebelum perjalanannya dimulai. Dan bahkan kategorinya adalah streetbike bukan adventure yang lebih sesuai untuk perjalanan Mario, seperti pada Wheel Story sebelumnya ke Indonesia Timur kita menyediakan trail. Kita lebih mengkhawatirkan keselamatan Mario daripada motornya.”

Menurut Mario, kondisi jalan yang paling menyulitkan justru jalur Lintas Timur Sumatera, dibandingkan perjalanan di luar negeri. Banyak kubangan dalam, maklum saat itu di penghujung musim hujan, hingga motor pernah ‘jumping’ setengah meteran ketika sebuah lubang tak terantisipasi.

Ketika menyebrang ke Malaysia dengan ferry, sempat disangka TKI oleh para TKI yang sama-sama menggunakan jasa ferry tersebut. Bahkan dianggap ‘belagu’ karena bawa masuk motor ke negeri jiran. Setelah dijelaskan barulah mereka berbalik kagum dan bangga kalau ada anak muda yang membawa harum nama bangsa.

Di Myanmar yang baru terbuka terhadap motoris lintas negara, Mario orang asing ke 18 yang melintas dengan motor.

Di India, dengan kondisi lalu lintas lebih parah dari Indonesia, meninggalkan banyak baret pada side bag motor Mario. Selain itu, kurang higienis soal produk makanan. Tetapi justru Mario terkena diare karena kebanyakan makanan.

Akhirnya 2 bulan dihabiskan di India termasuk sakit diare. Untuk pertama kalinya motor dikirimkan secara kargo ke Iran. Tetapi motor sempat tertahan di cukai Iran, karena regulasi Iran hanya sepeda motor di bawah kapasitas 250cc yang beredar di sana.

Tak hilang akal, motor dibawa dengan pikup sejauh 20 km ke luar pelabuhan. Barulah menjelajah Iran. Tantangan di Iran lainnya suhu panas 52 derajat dan kering. Mario beberapa kali menderita mimisan.

Sebaliknya ketika menyebrang ke Turki, justru musim dingin menerpa dengan suhu siang hanya 12 derajat. Sempat ditilang Polisi Turki, karena speeding di atas kecepatan yang diijinkan 90 km/jam, Mario tertangkap memacu hingga 140 km/jam dan wajib membayar denda USD60 di bea cukai. Uniknya petugas cukai terlupa menagih denda, karena tahu Mario dari Indonesia.

Selepas Turki, Mario memutuskan memasuki Eropa melalui Yunani. Karena Eropa Timur lainnya sedang krisis banjir pengungsi. Tetapi justru Yunani pun tengah krisis ekonomi sehingga banyak demo.

Padahal Mario tengah berharap secepatnya ke Italia, untuk perpanjangan visa beberapa negara yang akan dituju. Sehingga dari Istambul ke Yunani dipaksakan ditempuh dalam 24 jam, dengan kecepatan tinggi. Keberuntungan tengah berpihak padanya ketika tiba di pelabuhan Yunani pada saat bersamaan ada ferry yang bersandar. Padahal jadwal ferry itu tiga hari sekali melayani Yunani-Italia.

Dari Venesia, Italia, lalu ke Pesaro kota Benelli dan kota tempat Rossi remaja sempat balap liar. Pesaro menjadi tempat pengecekan akhir motor, dan ganti oli terakhir, serta belum ganti hingga kembali ke Indonesia.

Perjalanan dilanjutkan ke Austria, dan ketika berkemah di pegunungan perbatasan Italia, Mario terkena badai salju. Kondisi pun berubah dari hijau pegunungan akhir musim panas menjadi putih salju., saat itu Agustus akhir. Perjalanan berhenti karena salju di Alpen tak bisa dilalui motor.

Ketika tiba di Jerman, perpanjangan visa. Berikutnya, Mario tak melewatkan Swiss, yang memiliki pemandangan indah. Perjalanan pun memasuki babak akhir, ketika Mario masuk Perancis dari lembah Mount Blanc dan langsung menuju menara Eiffel, Paris.

Dalam perjalanan Mario pernah memacu hingga 205km/jam di Autobahn, tol di Jerman tanpa pembatasan kecepatan. Tetapi itu dimungkinkan karena menggunakan bensin dengan oktan 100.

Bobot motor dengan bawaannya, sekitar 260kg, belum yermasuk pengendara dan pembonceng.
salam team adventure bantaeng,, sulawesi selatan

Kamis, 09 Maret 2017

Kakek Sendirian dari Surabaya ke Sabang Naik Motor Peninggalan Sekutu untuk Serang NAZI Jerman


usianya sudah 68 tahun, dengan sepeda motor Harley Davidson WLA lebih tua dari usianya, buatan tahun 1942, dia “mengaspal” sendirian dari Surabaya, Jawa Timur menuju O Km, Sabang, Aceh.

Sabtu tengah hari (4/3/17), Askan tiba di Pelabuhan Bakauheni. Dari pintu gerbang Pulau Sumatera, kakek kelahiran 20 November 1949, menyelusuri Jalan Lintas Timur Sumatera.



Di Lampung Timur, jelang sore hari, pensiunan Bank Jatim ini memutuskan istirahat sejenak di rumah Lie Herley Sbw dari MACI Lampung. Matanya tak memungkinkan lagi jalan malam

Kakek yang tergabung dalam klub sepeda motor VHDEI 125 Independen Arek Bambu Runcing (ABR) Surabaya ini lalu bermalam di Hotel Tirta Kencana, Simpang Sribhawono, Lampung Timur.



MACI Lampung dari Kota Bandar Lampung dan Kota Metro merapat ke penginapannya. Banyak cerita dan hikmah yang dipetik oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Motor Antique Club Indonesia (MACI) Lampung.

“Salute, beliau berjiwa muda dan sangat bersahaja,” kata Lie, anak muda yang baru bergabung dalam keluarga MACI Lampung. Dia juga tertib berlalu lintas.Sepeda motor tuanya selalu bayar pajak, kata Lie yang pernah naik BSA sedirian ke Jogja.

Banyak kisah suka dan duka perjalanannya dari Surabaya tanggal 28 Februari lalu hingga sampai ke Lampung. “Wah, sungguh luar biasa, saya terjebak macet di Kemang, Jakarta,” ujarnya.

UPHOTO_20170305_131734¹0

Harley Davidson WLA berkapasitas 750 CC, lumayan berat saat diam atau pada saat terjebak macet. Apalagi usia Askan yang sudah tidak muda lagi. Hanya kesabaran yang membuatnya pelan-pelan menyelusuri tujuannya, kata Lie yang tahun lalu naik BSA ke Jogjakarta.

Sepeda motor yang usianya lebih tua dari Askan diproduksi Amerika pada tahun 1942 khusus untuk menaklukan NAZI Jerman. Ada kotak peluru dan sarung senjata api laras panjang di sisi roda depan.

Setelah menekuklutut Rezim Hitler, sepeda motor tersebut dikirim Sekutu untuk Agresi Militer paska-Kemerdekaan RI ke Indonesia. Sejak itu, sepeda motor ini ada di Indonesia dan salah satunya sedang disemplak Askan.



Askan merawat Bakonya, sebutan motor itu di kalangan penggemar sepeda motor klasik, seperti apa adanya sejak puluhan lalu. Beliau juga rajin membayar pajak sepeda motor Rp90 ribu setiap tahun.

Selain mengoleksi Harley Davidson WLA 1942, Askan juga menyimpan sepeda motor relatif muda, Harley Davidson Dyna. Sebagai teman motor warisan perang, kakek ini juga mengoleksi Jeep Willys yang juga sisa PD II.

Wawan Waspi Wawe, pemilik Harley Davidson WLA buatan 1942 juga, anggota MACI Lampung dari Bandar Lampung, ikut menyambut sesepuh penggemar sepeda motor dari Surabaya itu.

Sesepuh sepeda motor serupa dari Bandung, Saulus D.Coil Lacaden, mendoakan seniornya selamat sampai tujuan dan kembali dengan aman ke Surabaya.

Askan melanjutkan perjalanannya dari Lampung Minggu (5/3/17), pukul 08.00. Dia menyusuri Jalan Lintas Timur Sumatera dan akan bermalam di Palembang, Sumatera Selatan.
luar biasa bro dan sis.. ayo ke Nol kilometer... hehehe salam dari bantaeng bro kakek

Senin, 06 Februari 2017

Ride For Peace.. Biker indonesia untuk dunia


Siapa yang tidak mengenal sosok Kang JJ? Pria bernama lengkap Jeffrey Polnaja asal Bandung ini menjadi orang Indonesia pertama yang tercatat pada situs Wikipedia sebagai orang terjauh yang menjelajahi dunia dengan menggunakan sepeda motor seorang diri.

Kang JJ, The Wind Rider terinspirasi mengelilingi dunia setelah peristiwa serangan teror terhadap menara kembar World Trade Center (WTC), New York City, AS, pada 11 September 2001 silam. Kemudian ia memutuskan untuk berpetualang membawa misi perdamaian bertema “Ride For Peace”.

Kang JJ pertama kali menjelajahi dunia membawa nama Indonesia menggunakan sepeda motornya pada April 2006 dengan melintasi kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Pada tahun 2012, ia sempat kembali ke Indonesia dan melanjutkan perjalanannya dari Belgia menuju Siberia, kemudian menyeberang ke Amerika menuju Alaska dan ujung selatan Amerika Selatan.

Perjalanan yang ia tempuh tentu tidak selalu berjalan mulus. Pria berusia 54 tahun ini pernah bertemu dengan tiga milisi remaja yang menodongkan senjata saat melintasi hutan di Laos. Ia pun pernah diberondong di Afghanistan, serta sempat mengalami kecelakaan akibat bertabrakan dengan truk kontainer di Khazakstan. Bahkan, motor yang ia kendarai sempat dicuri di Belanda yang kemudian mengharuskan perjalanannya terhenti sesaat. Namun, dari semua kejadian nahas itu tidak lantas membuatnya hilang semangat.

Perjalanan penjelajahan “Ride For Peace” ini seluruhnya telah menempuh jarak sejauh 420.000 km yang diselesaikan dalam waktu 2.163 hari. Terdiri dari 951 hari pada misi “Ride For Peace” yang pertama tahun 2006-2008 dan 1.212 hari pada “Ride For Peace” yang kedua di tahun 2012-2015.

Setahun berselang, Kang JJ kembali melakukan sebuah perjalanan petualangan bertajuk “Tropical Vagabond Ride” di dataran Himalaya. Perjalanan selama 10 hari ini dimulai pada 1 September 2016, lalu mengunjungi tempat-tempat seperti Khardung La di ketinggian 5.606 mdpl, dan Panggong lake yang merupakan salah satu dari ketiga danau tertinggi di dunia dengan ketinggian 4.350 mdpl. Berbeda dengan sebelumnya, pada perjalanan petualangan kali ini ia ditemani seorang partner bernama Mulyo Widodo, yang juga merupakan adventure rider dan menunggangi sepeda motor dengan kapasitas sepertiga lebih kecil dari motor yang ia gunakan pada misi “Ride For Peace” sebelumnya.

“Jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita! Karena seberat apapaun kesulitan yang menghadang, tetap yakin dan berserah diri pada Yang Kuasa, yakin bahwa kita mampu melewatinya!” ~Jeffrey Polnaja.

Jumat, 26 Agustus 2016

Team adventure adalah seleksi dari beberapa club penggila touring.. dengan motto
"BEBAS DAN MERDEKA "  My Life My Adventure
Team turing asal butta toa bantaeng..
mereka orang lepas tidak terikat dengan aturan, tidak gentar tak terhalang dan
tidak menerima komando dari siapapun..!!!
nah itulah bedanya mereka dengan club atau komunitas motor lainya..
tidak ada struktruk dan jabatan di Team Adventure,,
Sekedar hobby dan Bersenang2 dalam artian positif brother...

Tunggu Kami dikotamu Brothers.. salam satu aspal satu Jalur